tena

Tena salah satu grup Teater di Medan yang masih eksis di bawah arahan Yan Amarni Lubis. Produksi Teater Nasional ( Tena ) memang tidak banyak di usianya yang hampir setengah abad.

Burhan Piliang, Isqak,S, Mazwad Azham, Sori Siregar dan Rusli Mahadi adalah pendiri Teater Nasional , tepatnya tanggal 28 Oktober 1963, dengan produksi ' Garis Pisah' karya Taguan Hardjo, yang di pentaskan di Balai Prajurit dekat kantor Pos Besar Medan.

Selasa, 17 November 2009

RAJA ULOK KOCAK SEKALI

Pementasan Raja Ulok yang diilhami dari Cerita Rakyat Pantai Cermin itu telah di gelar Teater Imago Medan pada malam tanggal 17 November 2009 dengan sukses. Raja Ulok yang diperankan Apri SR AHA, berhasil mengocok perut sekitar 500 penonton yang datang memadati gedung pertunjukan di Taman Budaya Medan.

Raja Ulok yang berdurasi sekitar 1 jam setengah itu, mengalir seenaknya sesuai dengan kemampuan rata-rata pemain baru yang mengejutkan ratusan pasang mata yang menontonnya. Ledak tawa penonton nyaris meruntuhkan atap gedung begitu melihat tingkah Ani yang berperan sebagai perempuan hamil.

Keberanian sutradara menghadirkan banyak pemain baru, pantas diacunghkan jempol. Medan memang benar menyimpan banyak pemain berbakat. Ihsan, Fery, Ross, Ulfa, Rina, Sulaiman, Ardi Parmin, Ridho, Eva, Rusdy, Adel, Guntur yang berperan sebagai sutradara film dalam mengulok, harus mengakui kemampuan ulok Raja yang tak mau kalah.

Munculnya pemain dadakan ke atas panggung, yang melibatkan penonton cilik, Diky Samsul, yang bermain sulap secara spontan di hadapan penonton, yaitu memainkan sulap api yang keluar dari dompet, benar-benar sebuah kejutan.

Kembali Teater Medan mengukir sejarah keberhasilan mentas, walau menurut sutradara, masih banyak sebenarnya yang masih harus diperbaiki buat kemampuan spontanitas para pemain muda yang rata-rata baru pertama bermain di atas pentas Taman Budaya Medan.

Raja Ulok yang tak mau kalah dalam mengulok, dihadapan penonton juga menunjukkan kemahirannya bermain sulap. Malam itu adalah malam yang sadis, karena setiap peserta lomba di penggal kepalanya, karena menurut Raja Ulok, semua peserta gagal mengulok Raja.

Akhirnya Raja Ulok harus kalah dengan Ulok seorang pemuda, yang begitu masuk langsung meneriakkan putri Maharani adalah isterinya. Pemuda ( Tata Dinata) membawa saksi besorban gaya India ( Juhairi Juju) yang tak kalah kocak dari Ani yang memerankan pertempuan hamil, dalam lakon bersuamikan Ardi, yang gagal ikut lomba karena isterinya tak setuju suaminya kawin lagi.

Akhir cerita, Pemuda yang tak mau di ulok, mengancam Raja, Puan Maharani diancam dan dilarikan....Cerita selesai.....

Sukses Teater Imago Medan.....Benar. Di Beberapa adegan perlu perbnaikan. Misalnya dalam adegan slow motion, rata-rata pemain masih tampak kurang intens. Bravo!

-----------------

Tuesday, November 17, 2009
Kocak ULOK KING ONCE

King Ulok performances inspired from Bath Beach Folklore had been in the title field Imago Theater on the night of November 17, 2009 with success. King played Apri Ulok SR AHA, managed to shake the stomach of about 500 spectators who packed the theater came in Medan Culture Park.

King Ulok a duration of about 1 hour and a half it, casually flows in accordance with average capacity of new players who surprised the hundreds of pairs of eyes watching. Explosive laughter almost demolish the building's roof when he saw Annie's behavior that serves as a pregnant woman.

Courage director presents many new players, deserve diacunghkan thumb. Medan was right to save a lot of talented players. Ehsan, Fery, Ross, Ulfa, Rina, Solomon, Ardi Parmin, Ridho, Eva, Rusdy, Adel, Guntur who served as director of the film in mengulok, must recognize the ability ulok King who will not lose.

The emergence of players improvised on stage, which involves little audience, Diky Samsul, the spontaneous magic in front of an audience, which plays a magic fire that came out of the wallet, is really a surprise.

Back Theater Medan mentas made history of success, although according to the director, there are many who still have really improved the ability for the spontaneity of the young players who average first new play on stage Medan Culture Park.

King Ulok who do not want to lose in mengulok, before the audience also showed skill tricks. That night was the night a sadistic, because every participant in the race cut off his head, because according to the King Ulok, all participants failed to mengulok King.

Finally Ulok King Ulok to be outdone by a young man, who was shouting directly into the Empress is the daughter of his wife. Youth (Tata Dinata) bring witnesses besorban Indian style (Juhairi juju) is no less hilarious than the war who played Annie was pregnant, the husband plays Ardi, who failed to join the race because his wife had agreed to remarry him.

End of story, young man who did not want the ulok, threatening King, Puan Maharani threatened and taken complete story .... .....

Imago Theater Success ..... right field. In some scenes need improvement. For example in the slow-motion scenes, the average players still seem less intense. Bravo!

Senin, 16 November 2009

THEATER

To come to the theater, watching the play funny, sad or terrible, the audience must be really ready to come to watch the show at present. Catch a performance art is not the same as dangdut musical performances or the like. Watching the play, we must be prepared with a scalpel that is in our thoughts each.
The play comes from the word 'password' and 'wara'. The password is vague. Wara synonymous with the show. Now we are more familiar with the title theater arts.

What gains and losses go to the theater? Fortunately we see life events of the players played on stage as if real. Harm? If we see no movement in unison with the soul that is in the mind.

Let's ask one of the spectators.

"You like to go to the theater?
"Like it. I used to theatrical time in school."
"Now you be a spectator. No you desire to get back to playing in front of an audience?"
"Of course I want. But I am now too old. It's hard to memorize the script."
"Any story you've ever played when the school first?"
"I once played Romeo Yessss .... In the scene I kissed her lips Yuliet ha ha ha ...."
"You really fall in love with your main opponent?"
"Yes. I fell in love. Yuliet finally really become my wife. This is it. Yuliet me. I do not Romeo kill himself ha ha ha ...."

That is the art of theater brother

YAN AMARNI LUBIS SHOTING SENETRON,PAKCIK HAJI AMSAL JUGA SHOTING

Begitu acara ulang tahun Teater Nasional ke 46 berahir, Yan Amarni Lubis beserta tiga panitia ulang tahun menghilang dari Taman Budaya Medan. Ke tiga panitia itu adalah Andi Mukli , Dewi Susanti dan Teguh. Selidik punya selidik, ternyata ke empat personil Imago yang di ketuai Yan Amarni Lubis itu berangkat shoting ke Muara Tapanuli Utara ikut shoting senetron cerita tentang Keluarga Batak. Pantas saat latihan akhir 'Raja Ulok' Yan, Andi, Dewi dan Teguh tak kelihatan batang hidungnya. Sukses Om Yan.

PAKCIK HAJI GIMANA?

Bagaimana pula dengan Pakcik Haji Amsal? Kabar Widy Production shoting di Siantar sampai juga ke telinga team lacak Tena. Apa judul ceritanya Pakcik? Siapa aktor dan aktrisnya? Kabari kemari Pakcik.

Rabu, 11 November 2009

RAJA ULOK 17 NOV 2009 DI TAMAN BUDAYA MEDAN

JANGAN LUPA NONTON RAJA ULOK.
KOCAK. SATIR. BANGSAWAN MODERN.

AKTORNYA - APRI SR AHA - ROSS - RINA - ARDI - TATA DINATA - JUERI - DAN PULUHAN PENDATANG BARU DARI IAIN, UMA, DAN USU .SERU KARENA BOM KETAWA AKAN MELEDAK DI GEDUNG UTAMA TAMAN BUDAYA MEDAN.

SEBELUM DATANG MENONTON, IKAT PINGGANG ANDA KUAT-KUAT.

Minggu, 01 November 2009

APA KATA MEREKA?


Teater Nasional Medan memang tidak muda lagi. Tapi yang datang berlatih ke Tena adalah para kaula muda yang usianya masih di bawah 20-an.Andi yang telah menyelesaikan kuliahnya di IAIN Sumatera Utara, bersama Adek Darma dan Apri, tanpa terasa telah menekuni seni teater di Tena hampir lima tahun, yang kemudian menyusul adik-adiknya yang juga kuliah di IAIN, seperti Teguh, Ridho, Tatak, Sulaiman, Ani, Rina, Anisah, Rangga yang juga sudah menyelesaikan kuliahnya di kini kembali ke kampung kelahirannya Duri untuk mengabdikan dirinya membina kampun halaman.

Apa kata AS. Atmadi, yang kbetulan malam itu datang dari Jakarta, Tena sebagai wadah, turut memajukan seni teater di Sumatera Utara. Di tahun 70-an, AS. Atmadi punya andil besar dalam memajukan seni teater lewat kritikan-kritikannya yang pedas di surat kabar Waspada Medan.
Babe teringat pada waktu ia berbincang-bincang dengan Burhan Piliang (Alm)seusai latihan basic di sangar tari Taman Budaya di tahun 70-an, Atmadi yang sebenarnya ingin menekuni seni akting, atas usul Burhan Piliang agar menekuni penulisan, tetap dijalankan, namun, bakat AS.Atmadi pada seni peran tidak berhenti di penulisan, diam-diam dia membentuk grup sendiri yang ia beri nama Teater Profesi bersama isterinya Sulastri dan bermarkas di Titi Kuning Medan.
Kini Atmadi menetap di Jakarta. Di ibu kota, Babe, begitu anggota-anggota teater Profesi memanggilnya, Babe tidak tanggung-tanggung. Ia terjun ke film dan senetron, namun dunia jurnalitik tetap saja menjadi bidang yang tak dapat ia pisahkan dari dirinya.

Apa lagi kata Hafis Taadi? Saat bertemu Burhan Piliang di Jakarta, salah satu pendiri Teater Nasional Medan yang juga hijrah ke Jakarta, Burhan Piliang memotifasi anak-anak Teater Que agar terus berjuang mengawal nama baik Sumatera Utara dalam setiap lawatan Teater Que menjelajah tanah air bersama Dialog Kursi yang mereka gelar di beberapa kota Indonesia.

Teater Nasional memang pernah menjadi barometer di Suametera Utara. Setelah naskah Taguan Hardjo di pentaskan di Nalai Prajurit 46 tahun silam, Teater Naional terahir kali mementaskan naskah 'Setan Dalam Bahaya' karya Taufik El Hakim terjemahan Ali Audah di Ged. Utama Taman Budaya Medan pada tahun 2003. Setelah itu, sangar TEna sepi dari segala macam kegiatan. Andi Cs yang paling rajin dan perduli dengan Tena, sibuk dengan kuliah dan melatih adik-adiknya di beberapa sekolah menengah atas.
Tena tetap dengan kebiasaan lamanya. Wadah Tena adalah wadah untuk saling bertukar fikiran, diskusi, dan membahas berbagai masalah untuk menambah kemampuan intelektual bagi anggotanya.

Kapan Tena mentas lagi? Pertanyaan itu sering didengar...Namun, usia ada batasnya,Z.Pangaduan Lubis yang pernah menjadi Ketua Tena di tahun 60-an, kini akrab dengan kesendirian dan keuzurannya di rumah Jalan Intertip Medan.. Lahmudin Mane telah mendahului kita. Selamat Khairi, Yohaini Zahri, Bouy Hardjo, Taguan Hardjo dan beberapa teman lagi yang pernah singah di Tena, juga telah tiada.

Aldian Arifin masih ada. Farah, Abrar Siregar, Rizal Siregar,di Jakarta. Tety Munte juga telah tiada.Kunung, Janah, Toto Zulfan, Khairul, Mahyudin Lubis, Hajrul Sahjaya, Kuntara DM, Ardani, Dahri Uhum Nasution, Edi Siswanto, Elliza, Buniah Selhad,Ali Rohom Harahap, Bismo Hardjo yang juga sudah uzur dan sakit-sakitan, sangat berkeingan menulis sejarah Tena...

Darwis Rifai Harahap masih terus membina anak-anak muda di Taman Budaya walau sebenarnya beliau pantas untuk pension karena usianya sudah 65 tahun. Namun De.Rifhara masih tampak tegar di usianya itu. Apa katanya tentang teater? Teater itu mendekatkan diri kita kepada neraka dan syurga....

Apa maksudnya? Temui saja beliau di sangar Tena, Taman Budaya Medan setiap petang.

46 TAHUN TEATER NASIONAL MEDAN

teater nasional di bentuk 46 tahun silam oleh 5 anak muda Medan, Sori Siregar, Mazwad Azham, Burhan Piliang, Iskaq,S dan Rusli Maha. Ke lima pemuda ini sebelumnya berkiprah di Bengkel Kerja Actor's Studio Medan Pimpinan Arif Husin Siregar.

Dari ke lima pemuda, setelah 46 thn, 3 diantaranya telah kembali ke pangkuan KhalikNya. Burhan Piliang tewas dalam kecelakaan Heli di kaki bukit Sibayak. Kerangkannya di temukan setelah 2 tahun pencariannya dihentikan.

Malam tanggal 1 Oktober 2009, oleh Yan Amarni Lubis, keberadaan Teater Nasional Medan yang ke 46 tahun diperingati di aula tari Taman Budaya Medan. Hadir juga Adek Nasution dari Gersik bersama temannya seniman Gersik untuk ikut memeriahkan hut Tena yang ke 46 dengan membawakan naskah berjudul Oknum....karya:M.Shoim Anwar.

Sementara Teater Imago Medan yang di bentuk oleh D. Rifai Harahap, menyambut hut tena dengan menampilkan naskah Raja Yang, dengan menurunkan pemain muda Adek darma, Andi Mukli, Apri SR, Ridho, Ardi, Tatak dan Ros.

Selamat ulang tahun Tena.

Rabu, 14 Oktober 2009

BUKU Oh BuKu.....

Esei
D.Rifai Harahap.

SASTRA MEDAN ABAD PLATINUM

Zaman sastra picisan telah lama berahir. Sejarah mencatat. Medan sebagai tempat penerbitan yang paling gencar dizamannya, kini redup seredupnya dikarenakan jago-jago pena kota Medan seperti Parada Harahap, Matu Mona, Adam Malik, Sutan Takdir Alisyahbana, Chairil Anwar, Sori Siregar, S. Dalimunte, Arie F.Batubara, Sugeng Satya Darma, R. Mulia Nasution, Tandi Skober, Foeza Hutabarat, Rizal Siregar yang belakangan ini asyik berpolitik dan banyak lagi yang lainnya, dan yang paling akhir sastrawan merangkap wartawan harian Waspada, begitu pension, hijrah ke Jakarta. Yang saya sebutkan terahir ini adalah rekan penulis yang paling pintar membuat seniman-seniman di Medan menggerutu bila membaca kritikan-kritikannya di ruang Budaya Waspada.

As. Atmadi memang cuma sebuah nama biasa. Tapi dia juga adalah seorang pemain sandiwara yang cerdas. Seorang pengasuh ruang Budaya Harian Waspada yang slektif menerima sumbangan tulisan dari penulis-penulis muda berbakat, dan akhirnya, harus diakui, banyak jebolan penulis usia muda yang mengisi rubric ‘budaya’ harian Waspada yang eksis baik yang hijrah ke Jakarta maupun yang masih menetap di Medan.

Sebenarnya rubric ‘budaya’ di harian-harian yang terbit di Medan bukan Cuma ada di harian Waspada, harian Analisa, Medan Pos, Mimbar Umum, Harian Global dan Medan Bisnis juga membuka rubric yang sama.. Sastra kora kalau boleh saya menyebutkan, da cerpen. Novel dan beberapa naskah sandiwara. Itu semua hasil swadaya para sastrawan yang ada di Medan.

Bagaimana di abad platinum sekarang ini? Setelah zamannya Sori Siregar, Zainuddin Tamir koto alias Zatako berhasil menaklukkan Jakarta, pendatang baru yang masih berusia muda yang ikut mengharumkan nama Sumatera Utara di khzanah bertaraf nasional adalah Hasan Albana, cerpenis yang pegawai negeri, sutradara dan juga adalah pemain sandiwara yang sangat cerdas dalam ber’akting’. Bagaimana dengan sastrawan perempuan? Ada Aisyah Basyar, Sumiati, Butet Manurung dan Dini Usman. Walau karya-karya mereka belum sampai ke tingkat nasional, tapi untuk Sumatera Utara mereka cukup dikenal lewat tulisan-tulisan berupa cerpen, puisi dan novel yang diterbitkan di Koran-koran Medan.

Hidup ini memang sangat singkat sekali. Mohammad Said dan Ani Idrus pendiri harian Waspada telah lama meninggalkan kita. Bung Yus pengarang yang hidup di zaman sastra picisan telah lama tiada. Herman KS, kritikus yang tulisan-tulisannya sangat ditunggu-tunggu para penulis di Medan maupun di Jakarta telah menghadap Khaliknya. Begitu juga dengan NA. Hadian, yang menobatkan dirinya sebagai presiden Penyair Sumatera Utara juga telah berpulang dengan meninggalkan setumpuk karya puisi yang belum berhasil ia publikasikan.

Kini adalah abad platinum. Abad serba cepat. Namun di Taman Budaya Sumatera utara, di saat-saat tertentu, akan terlihat sastrawan kondang di zamannya, pengarang ‘ Penakluk Ujung Dunia ’ , Bokor Hutasuhut jalan tertatih-tatih membawa semangat hidup berkeseniannya menemui pengarang-pengarang muda yang acap mangkal di Taman Budaya Medan. Begitu Bokor Hutasuhut yang telah uzur itu dating, seniman muda yang masih gagah, seperti Raudah Djambak, Hasan Albana dan yang lainnya dating berebutan membimbing Bokor Hutasuhut yang tertatrih-tatih. Apakah ini cerminan dunia sastra ( kesenian) di Sumatera Utara? Tidak jalan di tempat, tapi sulit maju kedepan dikarenakan na infuse yang disuntikkan tidak mengandung banyak gizi? Entahlah.

Tapi itulah gambaran peta berkesenian di Medan plus Sumatera Utara secara umum. Ada tapi terbata-bata. Tidak seperti A. Rahim Qahhar yang masih menggeliat walau nafas sudah diujung ubun-ubun. ARQ masih liar dalam membacakan puisi-puisi ‘ Sadam Husain’ nya bersama Damiri Mahmud dan Barani Nasution.

Pagelaran teater masih ada di Medan walau agak tersendat-sendat. Di bulan Oktober tanggal 4 malam Yondik Tanto dengan grupnya D’Lick Teater Team mementaskan ‘TOH’, aebuah repotoar karya Yondik sendiri dan di sutradarai olehnya sendiri. ‘TOH’ di awali dengan merintihnya seorang permpuan yang terikat ke dua tangannya p[ada sebuah gantungan. Di bawahnya tumpukan kain putih yang bergerak seiring rintihan perempuan yang terikat. Lewat naskahnya itu Yondik ingin menggambarkan pada penontonnya sebuah proses kelahairan yang amat sulit, kelahiran manusia, kelahiran akal budi, kelahiran baik dan buruk, dalam geliat simbolik yang agak sulit dicerna oleh penonton awam.

Seni tari. Sepertinya seni tari sekarang ini mendominir semua kegiatan latihan yang ada di Taman Budaya Medan. Tari walau masih dalam bentuk yang itu ke itu, tapi berhasil mengundang peminat, terutama kaula muda putrid dan anak-anak untuk mengikuti latihan tari di Taman Budaya.
Untuk saat ini, di Taman Budaya ada lima kelompok tari yang semuanya memiliki anggota latihan lebih kurang lima puluh peserta latihan di tiap grup.
Teater ? Selain Teater Generasi pimpinan Suyadi San, ada Teater Imago , D’Lick Teater Team, Teater Anak Negeri Pimpinan Idrus Pasaribu dan Teater Nasional yang lebih mengutamakan personil pelatihan ke Teater Imago Medan. Diluar Taman Budaya ada LKK Unimed dan Teater “O” dari sastra USU. LKK Unimed adalah yang paling produktip. Sementara kelompok Mahasiswa dari Aswaliah, UISI, Muhammadiah dan ITM belum begitu bergiat untuk tampil di luar kampus mereka. Tapi mereka ada.

Bagaimana dengan ‘seni rupa’ ? Ada. Tapi masih tetap belum mampu menguasai pasar. Beda dengan pelukis M. Yatim yang bermarkas di Tanjung Morawa. Pasar lukisan-luksan M. Yatim tidak lagi di Medan, tapi telah berhasil meminang pembeli dari Eropah. Slamat Chairi terlah tiada. Dua tahun lalu pelukis yang hamper 4 tahun hijrah ke Jakarta di sekitar tahun 1970-an sampai tahun 1980-an, disisa usia tuanya ia mengabdikan dirinya sebagai guru Bahasa Inggeris di perguruan Pertiwi Medan. Semenjak ia ditinggal pergi oleh iosteri tercintanya, Slamet Chairi tinggal dari rumah kost ke rumah kost sampai akhir hayatnya. Sebelum Slamet Chairi meninggal dunia, ia masih sempat menggelar pameran lukisan cat airn di salah satu galeri yang ada di Medan Baru. Untuk dapat berpam,eran untuk yang terahir, ia dibiayai oleh pihak sponsor dengan imbalan bila ada lukisan yang laku, bagian Slamet Chairi 50 %. Namun sampai mengahadap Chaliknya, tak sebuah lukisan pun yang laku terjual.

Disamping Slamet Chairi yang telah tiada, pelukis-pelukis muda yang rajin menggelar pameran adalah Togu Sinambela, Kuntara DM, Rein Asmara, dan beberapa pelukis muda berbakat lainnya yang penulis lupa nama-namanya.

Seni rupa, Teater, tari, film, multi media dan sastra adalah kegiatan yang sebenarnya tidak asing bagi seniman yang ada di Sumatera Utara. Salah satu film produksi Medan, ‘ Turang’ pernah menjadi film terbaik dalam festifal film Indonesia di tahun 1950-an. Tahun 50-an sampai dengan tahun 60-an produksi Medan sangat diperhitungkan oleh orang-orang film yang ada di Jakarta. Kini hal itu tak lagi pernah terjadi. Anak Medan terus menunggu dan menunggu datangnya produksi film dari orang-orang Jakarta.

Di tahun 80-an, anak Medan yang bernama Abrar Siregar datang ke Medan untuk membuat film yang berjudul ‘Sorta’. Abrar Siregar awalnya adalah seorang wartawan di mingguan Mimbar Teruna Medan pimpinan Buyung Gandrung. Kedatangan Abrar
Siregar yangbtelah menjadi sutradara penuh setelah beberapa film menjadi asisten sutradaa Wim Umboh, sangat menggembirakan anak-anak Medan yang memiliki bakat di bidang acting. Tercatatlah beberapa nama Burhan Piliang, Rosnani Lubis yang ikut mendampingi bintang-bintang tenar dari Jakarta. Untuk tampil sebagai pemeran utama seperti dalam filmnya Bachtiar Siagian, anak Medan sepertinya sulit untuk mendapat kesempatan, walau sutradaranya adalah anak Medan. Menurut kata seorang teman yang telah lama bermukim di Jakarta, untuk dapat ‘numpang lewat’ saja sudah sukur. Untuk jadi pemain utama itu bukanlah hal yang gampang, ucapnya.

Mencermati semua itu nafas memang harus kita tarik panjang. Seniman Medan yang hijrah ke Jakarta, yang bergerak di film sebenarnya cukup banyak. S. Dalimunte terkadang terlihat juga sesekali wajahnya di layer kaca. Begitu juga As. Atmadi yang kini bertukar nama menjadi Ronjas. Senetron Aleks Latif walau belum menjadi buah bibir masyarakat banyak, senetron ‘ keluarga cemara’ yang awalnya di sutradarai oleh Edward Pesta Sirait itu memang harus kalah bersaing dengan senetron kacangan yang tujuannya hanya untuk menjadikan media layar kaca sebagai sarana hiburan. Satu waktu dulu, sewaktu Najib Bahadur masih hidup, orang-orang Medan yang ada di Jakarta tetap memperhatikan perkembangan dunia kesenian yang ada di Medan. Usaha kawan-kawan di Jakarta yang untuk tetap terlibat dalam memajukan seni film di Medan perlu mendapat acungan jempol, tapi usaha itu memang tak pernah terwujud, tapi usaha mereka sudah jauh dari cukup.

Kini , di abad platinum ini, usaha kawan-kawan yang ada di Jakarta untuk meningkatkan kegiatan seni di Medan kembali berulang. Kali ini usaha kawan-kawan seniman yang pluas Sumatera Utara yang berdomisili di Jakarta akan menerbitkan antologi sastra. Ide ini tercetus saat seniman-seniman Medan lagi ber-halal bi halal . Di facebook Idris di Pasaribu kabar ini ia tuliskan dengan nada yang agak sedikit miring. Sastrawan Medan yang ada di Jakarta akan menerbitkan antologi sastra tanpa ada melibatkan penulis yang ada di Medan. Tapi peluncurannya di Medan. Apa ini bukan pelecehan namanya? Begitu kira-kira tanggapan Idris Pasaribu di face book nya. Pelecehan? Penulis kurang paham yang dimaksud Idris Pasaribu yang ia maksud dengan ‘pelecehan’. Ada kawan di perantauan yang sutradara pulang kampong untuk membuat film seperti Abrar Siregar, kawan-kawan di Medan ia pakai cuma sebagai figuran, tapi waktu itu tak ada yang merasa anak Medan di lecehkan. Kini kembali anak Medan di perantauan berhasrat menerbitkan antologi sastra, dan itupun ternyata penulis dan sastrawan Medan mereka libatkan untuk mengirimkan karyanya dalam bentuk cerpen, puisi dan esei. Bila Idris dalam face booknya menulis anak Medan tidak dilibatkan, Idris mungkin belum mendapat undangan untuk mengirimkan karyanya ke antologi sastra yang akan diterbitkan itu.

Usaha saudara kita di perantauan untuk meramaikan bunga rampai sastra di tanah air haruslah kita sambut gembira walau tulisan ini tidak disrtakan dalam antologi yang diterbitkan nantinya.

Dawis Rifai Harahap.